Wednesday, December 27, 2017

TAFSIR SURAT AL FATIHAH



TAFSIR SURAT AL FATIHAH
Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah Tafsir
Dosen Pengampu : Atiqotuz Zulfah, S.Pd.I.,M.S.I.
Disusun oleh :
Ihdiana Nurin S          1403096016
Laila Fajrin                  1403096019
Dewi Nuris Sa’adah    1403096021

PGMI 3A
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015





BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Seorang muslim akan selalu mengulang-ulang membaca surat pendek yang terdiri atas tujuh ayat ini, minimal ia membacanya sebanyak tujuh belas kali dalam sehari semalam, entah berapa kali lipat lagi kalau dia melakukan shalat-shalat sunnah. Seorang muslim tidak akan sah shalatnya tanpa mmbaca surat ini.
Surat al Fatihah yang merupakan surat pertama dalam al-Qur’an termasuk golongan surat makkiyah, yakni surat yang diturunkan sebelum Rasulallah hijrah ke kota Madinah. Pokok-pokok besar al-Qur’an seperti masalah tauhid, keimanan, janji dan kabar gembira bagi orang yang beriman, ancaman dan peringatan bagi orang kafir, tentng ibadah dan pembalasan bagi orang kafir, semua itu tercermin dalam surat al Fatihah.
Melihat pentingnya memahami surat ini secara mendalam dan banyaknya orang-orang mukmin yang kurang mengetahui tentang penafsiran ayat-ayat surat al Fatihah ini maka penulis ingin mengupas sedikit tentang penafsiran ayat-ayat surat ini. Setidaknya agar dalam shalat kita dapat menghayati maksud dan maknanya serta mampu menguatkan iman kita kepada sang pencipta, Allah SWT.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Surat Al Fatikhah dan Terjemahannya
2.      Penjelasan Umum Surat Al Fatihah
3.      Tafsir Surat Al Fatihah
C.    TUJUAN PENULISAN
1.      Mengetahui lafadz dan makna surat Al Fatihah
2.      Mengetahui penjelasan umum tentang surat Al Fatihah
3.      Mengerti dan memahami penafsiran surat Al Fatihah



BAB II
PEMBAHASAN
A.    SURAT AL FATIHAH DAN TERJEMAHANNYA
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)  [الفاتحة : 1 - 7] [1]
1.    Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
2.    Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
3.    Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
4.    Yang menguasai hari pembalasan.
5.    Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.
6.    Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.
7.    (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
B.     PENJELASAN UMUM SURAT AL FATIHAH
Al Fatihah terdiri dari tujuh ayat dan menurut mayoritas ulama diturunkan di Mekkah.[2] Ia merupakan surat pertama dalam daftar surat al-Qur’an. Meski demikian, surat Al Fatihah ini bukanlah surat yang pertama kali diturunkan, karena surat yang pertama kali diturunkan adalah surat Al Alaq.[3]
Surat ini dinamakan Al Fatihah karena secara tekstual ia merupakan surat yang membuka atau mengawali surat-surat yang ada di al-Qur’an dan sebagai bacaan yang mengawali dibacanya surat lain dalam shalat.[4] Selain bernama Al Fatihah surat ini juga dinamakan oleh mayoritas ulama dengan sebutan Ummul Kitab, sedangkan menurut as-Suyuthi surat ini memiliki nama lain, diantaranya adalah al-Wafiyah (yang mencakup)[5], asy-Syafiyah (yang menyembuhkan)[6] dan as-Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang).[7]

C.    TAFSIR SURAT AL FATIKHAH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ [الفاتحة :[1]
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Allah memulai kitab-Nya dengan Basmalah dan memerintahkan nabi-Nya untuk memulai segala aktivitas dengan asma Allah, Iqra’ Bismi Rabbika, maka tidak keliru jika dikatakan bahwa Basmalah merupakan pesan pertama Allah kepada manusia, pesan agar manusia memulai setiap aktivitasnya dengan asma Allah.[8]
Kalimat Basmalah tersebut bermakna, “Aku memulai bacaanku ini seraya memohon berkah dengan menyebut seluruh nama Allah”, Idiom nama Allah berarti mencakup semua nama di dalam Asmaul Husna. Seorang hamba harus memohon pertolongan kepada Tuhannya. Dalam permohonannya itu, ia bisa menggunakan salah satu nama Allah yang seusai dengan apa yang diinginkan. Permohonan pertolongan yang paling agung adalah dalam rangka ibadah kepada Allah dan yang paling utama adalah dalam rangka membaca kalam-Nya, memahami makna kalam-Nya, dan meminta petunjuk-Nya melalui kalam-Nya.[9]
Allah adalah Dzat yang harus disembah, hanya Allah yang berhak atas cinta, rasa takut, pengharapan dan segala bentuk penyembahan. Hal itu karena Allah memiliki semua sifat kesempurnaan, sehingga membuat seluruh makhluk semestinya hanya beribadah dan menyembah kepada-Nya.[10]
Makna ba’ yang dibaca bi pada Basmalah, ba’ atau yang dibaca bi  dalam basmalah diterjemahkan dengan “memulai”, sehingga Bismillah berarti “saya atau kami memulai apa yang kami kerjakan ini dengan nama Allah.” Dengan demikian, kalimat tersebut menjadi semacam do’a atau pernyataan dari pengucap, bahwa ia memulai pekerjaannya dengan nama Allah. Apabila seseorang memulai suatu pekerjaan dengan nama Allah atau atas namaNya, maka pekerjaan tersebut akan menjadi baik, atau paling tidak pengucapnya akan terhindar dari godaan nafsu, dorongan ambisi atau kepentingan pribadi, sehingga apa yang dilakukannya tidak mengakibatkan kerugian bagi orang lain, melainkan membawa manfaat bagi diri sendiri, masyarakat, lingkungan serta kemanusiaan seluruhnya.[11]
Ada juga yang mengaitkan kata bi dengan memunculkan dalam benaknya “kekuasaan”, pengucap Basmalah seakan-akan berkata: “Dengan kekuasaan Allah dan pertolonganNya, pekerjaan yang sedang saya lakukan ini dapat terlaksana”. Pengucap ketika itu (seharusnya) sadar bahwa tanpa kekuasaan Allah dan pertolonganNya apa yang sedang dikerjakan tidak akan berhasil. Dengan demikian, ia menyadari kelemahan dan keterbatasan dirinya, tetapi dalam saat yang sama pula ia memiliki rasa percaya diri setelah menghayati kata Bismillah ini, karena pada saat itu ia telah menyandarkan dirinya kepada Allah dan memohon bantuan Yang Maha Kuasa.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) [الفاتحة : 2]                        
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 Ayat ini merupakan pujian kepada Allah karena Dia memiliki semua sifat kesempurnaan dan karena telah memberikan berbagai kenikmatan, baik lahir maupun batin, serta baik bersifat keagamaan maupun keduniawian. Didalam ayat itu pula, terkandung perintah Allah kepada para hamba untuk memuji-Nya, karena hanya Dialah satu-satunya yang berhak atas pujian. Dialah yang menciptakan seluruh makhluk di alam semesta. Dialah yang mengurus segala persoalan makhluk. Dialah yang memelihara semua makhluk dengan berbagai kenikmatan yang Dia berikan kepada makhluk tertentu yang terpilih, Dia berikan kenikmatan berupa iman dan amal sholeh.[12]
Kata rabb رَبِّ secara etimologi berarti pemelihara, pendidik, pengasuh, pengatur dan yang menumbuhkan. Kata rabb biasa dipakai sebagai salah satu nama Tuhan, karena Tuhanlah yang secara hakiki sebagai pemelihara, pendidik, pengasuh, pengatur dan yang menumbuhkan makhluknya. Oleh sebab itu, kata rabb biasa diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan kata Tuhan.[13]

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) [الفاتحة : 3]                    
Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kedua kata tersebut adalah kata sifat yang berakar pada satu kata, yaitu ar-rahmat. Secara bahasa, kata rahmat berarti kasih di dalam hati yang mendorong timbulnya perbuatan baik. Makna bahasa ini kurang tepat untuk menggambarkan sifat Allah. Karena itulah, para ulama lantas lebih sepakat untuk menyatakan bahwa kasih sayang adalah sifat yang ada dalam Dzat Allah. Kita tidak mengetahui bagaimana hakikatnya. Kita hanya menyadari efek dari sifat kasih sayang-Nya, yaitu berupa kebaikan.[14]
Banyak para ulama yang membedakan antara makna ar-Rahman dan ar-Rakhim. Sifat ar-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah yang memberikan kenikmatan kepada seluruh makhluk-Nya. Sedangkan sifat ar-Rakhim adalah sifat kasih sayang-Nya yang memberikan kenikmatan secara khusus untuk orang-orang mukmin saja. Sebagian ulama lain menyatakan bahwa sifat ar-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah yang memberikan kenikmatan bersifat umum. Sedangkan sifat ar-Rakhim merupakan sifat kasih sayang Allah yang memberikan kenikmatan bersifat khusus.[15]
Menurut Syekh Thanthawi Jauhari, kata ar-Rahman merupakan sifat kasih sayang Allah yang berkaitan dengan Dzat-Nya. Allah merupakan sumber kasih sayang dan kebaikan. Sedangkan kata ar-Rakhim adalah sifat kasih sayang Allah yang berkaitan dengan perbuatan, yaitu bagaimana sampainya kasih sayang dan kebaikan Allah kepada para hamba-Nya yang diberi kenikmatan.[16]

ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) [الفاتحة : 4]                     
Yang menguasai hari pembalasan.

Dalam ayat ini, terdapat dua macam qiraat. Ashim, al-Kisa’i dan Ya’qub membacanya dengan  huruf mim dibaca panjang (mad). Sedangkan para qari’ yang lain membacanya dengan huruf mim tidak dibaca panjang (mad). Meski bisa dibaca dengan dua cara, kata tersebut memiliki makna yang sama. Sebagian ulama menyatakan bahwa kata al-Maalik atau al-Malik  bermakna Yang Maha Kuasa untuk menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada.  Tidak ada yang mampu melakukan hal itu kecuali Allah SWT.[17]
Menurut Ibnu Abbas, Muqatil, dan as-Sadi ayat tersebut berarti “yang memutuskan di hari perhitungan”.  Menurut Qatadah, kata ad-din (الدين) berarti pembalasan. Dalam hal ini, pembalasan berlaku atas semua kebaikan dan keburukan. Sedangkan menurut Muhammad bin Ka’ab al-Qarzhi, ayat tersebut bermakna “yang menguasai hari ketika tak ada lagi yang bermanfaat kecuali agama”. Menurut pendapat lain, kata ad-din berarti ketaatan, dengan demikian, yaum ad-din berarti hari ketaatan.[18] Saat itu, hanya ketaatan hamba kepada Allah yang menyelamatkannya dari siksaan neraka.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) [الفاتحة : 5]                                 
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.

Dengan kalimat hanya kepada-Mu kami menyembah (إِيَّاكَ نَعْبُدُ)Allah membatasi penyembahan atau ibadah hanya kepada Diri-Nya semata. Dengan ayat tersebut, kita pun harus memutuskan bahwa ibadah hanyalah satu-satunya kepada Allah. Tidak boleh ibadah tersebut dikait-kaitkan dengan selain Allah. Ibadah juga merupakan bentuk ketundukan manusia kepada Allah untuk mengikuti berbagai perintah dan larangan-Nya.[19]
Shalat merupakan bentuk ibadah yang paling dasar (asasi). Dalam hal ini, sujud merupakan bentuk ketundukan yang paling tinggi kepada Allah. Hal ini karena dalam bersujud, orang menundukkan wajahnya yang notabene merupakan bagian tubuh yang paling dimuliakan. Saat bersujud, orang menempelkan wajahnya di atas lantai yang notabene merupakan tempat yang biasa diinjak-injak oleh kaki. Apalagi didalam shalat, terutama shalat berjamaah, ketundukan seseorang kepada Allah juga dipertontonkan kepada semua orang.[20]
Ditempatkannya kalimat “permintaan tolong” (نَسْتَعِينُ) setelah kalimat “penyembahan” (نَعْبُدُ) juga merupakan bentuk pengajaran Allah kepada manusia tentang sopan santun. Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya terlebih dahulu, setelah kita beribadah kepada-Nya, barulah kita pantas untuk meminta pertolongan kepada-Nya. Dengan kata lain, sudah selayaknya, orang meminta sesuatu setelah ia terlebih dahulu mengerjakan apa yang diperintahkan. Sangat tidak pantas jika seseorang meminta segala sesuatu terlebih dahulu padahal ia belum melaksanakan apa yang diperintahkan.[21]

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) [الفاتحة : 6]                      
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus.

Menurut Ibnu Abbas, kata “tunjukkanlah kami” (اهْدِنَا) berarti “berilah kami ilham.” Sedangkan “jalan yang lurus” (xالصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ) berarti kitab Allah. Dalam riwayat lain “jalan yang lurus” itu adalah agama Islam. Selain itu, ada juga riwayat yang menyatakan bahwa ia berarti “al-haqq” (kebenaran). Dengan demikian, menurut Ibnu Abbas lagi, kalimat “tunjukkan kami jalan yang benar” berarti “berilah kami ilham tentang agama-Mu yang benar, yaitu tiada tuhan selain Allah serta tiada sekutu bagi-Nya.”[22]
Kata ash-shirath (الصِّرَاطَ) dalam ayat di atas mempunyai tiga macam cara membaca (qiraat). Pertama, mayoritas qari’, membacanya dengan huruf shad, sebagaimana yang tercantum dalam mushaf Utsmani. Kedua, sebagian lain membacanya dengan huruf siin, sehingga menjadi (السِرَاط).  Ketiga, dibaca dengan huruf za’ (ز), sehingga menjadi (الزِراَط). Sedangkan menurut bahasa, seperti dikatakan at-Thabari, kata ash-shirath (الصِّرَاطَ) berarti jalan yang jelas dan tidak bengkok.[23]
Kataاهْدِنَا  berasal dari akar kata hidayah (هداية). Menurut al-Qasimi, hidayah berarti petunjuk -baik yang berupa perkataan maupun perbuatan- kepada kebaikan. Hidayah tersebut diberikan Allah kepada hamba-Nya secara berurutan. Hidayah pertama diberikan Allah kepada manusia melalui kekuatan dasar yang dimiliki manusia, seperti pancaindra dan kekuatan berpikir. Dengan kekuatan inilah, manusia bisa memperoleh petunjuk untuk mengetahui kebaikan dan keburukan. Hidayah kedua adalah melalui diutusnya para Nabi. Macam hidayah ini terkadang disandarkan kepada Allah, para rasul-Nya, atau al-Qur’an. Hidayah tingkatan ketiga adalah hidayah yang diberikan oleh Allah kepada para hamba-Nya karena perbuatan baik mereka. Hidayah keempat adalah hidayah yang telah ditetapkan oleh Allah di alam keabadian. Dalam pengertian hidayah keempat inilah, maka Nabi Muhammad tidak berhasil mengajak sang paman, Abu Thalib, untuk masuk Islam.[24]

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7) [الفاتحة : 7]                       
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Ayat ini merupakan penjelasan dan tafsir dari ayat sebelumnya tentang apa yang dimaksud dengan “jalan yang lurus” (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ). Jadi, yang dimaksud dengan “jalan yang lurus” adalah “jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka”. Sedangkan yang dimaksud dengan “jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” adalah jalan orang-orang yang telah Allah beri anugerah kepada mereka, lalu Allah pun menjaga hati mereka dalam Islam, sehingga mereka mati tetap dalam keadaan Islam. Mereka itu adalah para nabi, orang-orang suci, dan para wali. Sedangkan, menurut Rafi’ bin Mahran, seorang tabi’in yang juga dikenal dengan nama Abu al-Aliyah, yang dimaksud dengan “orang-orang yang Engkau beri nikmat itu” adalah Nabi Muhammad dan kedua sahabat beliau, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.[25]
Selanjutnya, yang dimaksud dengan “bukan jalan mereka yang dimurkai” (غير المغضوب عليهم) adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang Yahudi. Mereka dimurkai oleh Allah dan mendapatkan kehinaan karena melakukan berbagai kemaksiatan. Sedangkan yang dimaksud dengan orang-orang yang sesat (الضالين) pada lanjutan ayat tersebut adalah orang-orang Nasrani. Tafsir bahwa orang-orang yang dimurkai adalah Yahudi dan orang-orang sesat adalah Nasrani sudah disepakati oleh banyak para ulama dan diuraikan di dalam beberapa hadis dan ayat-ayat Alquran sendiri.[26]




BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Surat al Fatihah adalah surat pertama dalam al-Qur’an, termasuk golongan surat makiyah atau surat yang diturunkan dikota Makkah, terdiri dari tujuh ayat. Surat al Fatihah ini berisi pokok-pokok isi al-Qur’an al-Karim seluruhnya. Pokok-pokok al-Qur’an yang terkandung dalam surat al Fatihah ini diperjelas lagi pada 113 surat berikutnya.
Dari penafsiran yang telah disebutkan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Pekerjaan yang baik perlu dimulai dengan Basmalah yang menunjukkan adanya akidah dan keimanan.
2.      Kita perlu memuji Allah dan melaksanakan ibadah serta memohon pertolongan hanya kepadaNya yang memelihara dan mengatur seluruh alam.
3.      Baik dalam ibadah maupun amal perbuatan yang lain kita selalu mohon hidayah dan petunjuk sesuai dengan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah.
4.      Kita memohon hidayah dan petunjuk kepada Allah karena Allah adalah Maha Pengasih, Maha Penyayang dan menguasai hari akhir sesuai dengan adanya janji dan ancaman.
5.      Hidayah dan petunjuk yang kita mohonkan kepada Allah ialah hidayah sebagaimana hidayah yang Allah berikan kepada orang-orang yang diberi nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan sesat sebagaimana yang disebutkan dalam kisah-kisah al-Qur’an.

B.     KRITIK/SARAN
Dalam mempelajari tafsir surat al Fatihah ini, diharapkan para pembaca makalah menelaah diri pribadi, apakah sikap yang dilakukan sekarang ini sudah sesuai dengan penafsiran yang telah dijabarkan atau malah sebaliknya. Selanjutnya, kami menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pemakalah khususnya dan pembaca pada umumnya.  Terimakasih dan semoga sukses.


[1] Departemen Agama RI,  Al Qur’an dan Terjemah, (Jakarta: P.T Sabiq Depok, 2009), hlm. 1.
[2] Fakhruddin Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2000), juz 1, hlm. 17.
[3] Muhammad bin Bahadur bin Abdullah az-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1391 H), juz 1, hlm. 206.
[4] Ismail bin Umar bin Katsir al-Qarsyi ad-Damsyiqi, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, (Beirut: Dar al-Fikr, 1994), juz 1, hlm. 101.
[5] Jalaludin as-Suyuthi, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, (Mesir: al-Hai’ah al-Mishriyyah al-‘Ammah li al-Kitab, 1974), juz 1, hlm. 190.
[6] Ibnu Jazi, at-Tashil fi Ulum at-Tanzil, juz 1, hlm. 61.
[7] Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar, Adhwa al-Bayan fi Idhah al-Qur’an bi al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), juz 2, hlm. 315.
[8] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, (Ciputat: Lentera Hati, 2007), hlm. 3.
[9] Abdurrahman bin Nashir bin as-Sa’di, Taisir al-Lathif al-Mannan fi Khulash Tafsir al-Qur’an, (Saudi Arabia: Wizarah asy-Syu’un al-Islamiyah wa al-Auqaf wa ad-Da’wah wa al-Irsyad al-Mamlakah al-Arabiyyah as-Su’udiyyah, 1422 H), hlm. 10.  
[10] Ibid.,  
[11] Op. cit, hlm. 12.
[12] Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki, et.alat-Tafsir al-Muyassar, hlm. 8.
[13] Kementrian Agama RI, al-Qur’an dan Tafsirnya, jilid 1, (Jakarta: Departemen Agama RI), jil. I, hlm. 10.
[14] Muhammad Sayyid Thanthawi, at-Tafsir al-Wasith, juz 1, hlm. 1.
[15] Ibid.
[16] Ibid.
[17] Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi, Ma’alim at-Tanzil, (Riyadh: Dar ath-Thayyibah li an-Nasy wa at-Tauzi’, 1997), juz 1, hlm. 53.
[18] Ibid.
[19] Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi, Tafsir asy-Sya’rawi, juz 1, hlm. 3.
[20] Ibid.
[21] Muhammad Sayyid Thanthawi, at-Tafsir al-Wasith, juz 1, hlm. 6.
[22] Ibnu Abi Hatim ar-Razi, Tafsir Ibnu Abi Hatim, juz 1, hlm. 8-9.
[23] Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali Abu Ja’far ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, (Riyadh: Muassasah ar-Risalah, 2000), juz 1, hlm. 170.
[24] Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Mahasin at-Ta’wil, kitab digital dalam Program al-Maktabah asy-Syamilah versi 3.13.
[25] Abu al-Laits Nashr bin Muhammad bin Ibrahim as-Samarqandi, Bahr al-Ulum, (Beirut: Dar al-Fikr, tt.), juz 1, hlm. 43.
[26] Ibid, hlm. 44.


STUDENT GOVERMENT : LIMA PRINSIP DASAR



STUDENT GOVERMENT : LIMA PRINSIP DASAR

Student Goverment merupakan pelembagaan kepentingan politik mahasiswa dalam format negara mahasiswa, namun tidak sama dengan negara, dimana konsepnya tidak terlepas dari teori negara. Jika disederhanakan maka student government adalah gerakan mahasiswa yang dilembagakan. Student goverment memiliki 5 prinsip dasar, yaitu moralitas, intelektualitas, politis, independen dan sejajar. Kelima prinsip student goverment ini perlu dikritisi.
Pertama, student goverment berpatron pada gerakan moral. Sebelum ide gerakan mahasiswa ini kita kembangkan lebih jauh, agaknya kita perlu lebih bijaksana untuk bercermin pada diri kita sendiri. Gerakan mahasiswa, terlepas dari ideologinya, dilahirkan dan dibesarkan oleh mahasiswa itu sendiri yang sedikit banyak terpengaruh oleh suasana lingkungan dan latar belakang akademis. Secara umum masyarakat memandang mahasiswa sebagai bagian kecil dari komunitas terdidik. Tapi yang menggelikan tidak semua mahasiswa, namun cukup banyak, yang kurang menyadari anugerah yang telah disandangnya. Sebuah ironi ketika mahasiswa meneriakkan slogan-slogan moralitas tetapi mahasiswa yang lain berkelakuan tak bermoral, semisal Sex bebas, aborsi, pergaulan tanpa batas, narkoba, ayam kampus dan tindak pidana. Jika mahasiswa seperti ini yang diberi kesempatan memegang kendali, entah apa yang akan terjadi.
Kedua, student goverment berpatron pada gerakan intelektual. Gerakan mahasiswa yang berkarakter intelektual memang diharapkan menghasilkan rumusan dan solusi konkret permasalahan bangsa sesuai dengan kapasitas keilmuan yang dimiliki. Jika harapan ini terlaksana maka sebuah kebahagiaan bagi masyarakat. Mahasiswa menjadi bagian komunitas yang peduli terhadap rakyat yang miskin dan tertindas. Konsepsi intelektual yang perlu dikembangkan adalah konsep intelektual profetik yakni gerakan yang meletakkan keimanan sebagai ruh atas penjelajahan nalar akal. Dengan konsep ini, maka gerakan mahasiswa akan menjadi patron bagi masyarakat untuk melakukan pencerahan dan penyadaran. Namun celakanya, konsep pendidikan yang ditawarkan saat ini lebih mementingkan kebutuhan pragmatis. Hasilnya adalah mahasiswa berlomba-lomba untuk menyelesaikan studinya sebelum batas akhir yang seringkali membawa dampak pada keengganan mahasiswa untuk ikut dalam perkumpulan membicarakan masyarakat yang teraniaya, apalagi, berorganisasi.
Ketiga, student goverment merupakan gerakan politik. Sebagai gerakan politik mempunyai arti menjalankan fungsi kontrol (oposisi) terhadap kebijakan, baik kampus maupun negara. Hal ini lebih berarti jika ada jalinan antar gerakan mahasiswa, paling tidak jika ada isu/musuh bersama, maka mahasiswa bersatu. Turunnya Soeharto pada tahun 1998 merupakan salah satu contoh betapa kuatnya gerakan mahasiswa tatkala bersatu. Namun pasca lengsernya Soeharto, gerakan mahasiswa tidak lagi mempunyai kesamaan terutama dalam hal strategi apa yang akan digunakan dalam melaksanakan agenda reformasi.
Keempat, student goverment bersifat independen. Independen mempunyai arti tidak terpengaruh kepentingan kelompok tertentu terutama di luar mahasiswa. sejarah Orde Lama memberikan pelajaran kepada kita bahwa partai politik pun ternyata mempunyai kepentingan dengan menggarap mahasiswa. tidak heran jika pada masa itu ada anggapan jika HMI adalah alat perjuangan Masyumi, NU dengan PMII-nya, PNI dengan GMNI-nya, PKI dengan CGMI-nya. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ekspresi gerakan mahasiswa adalah ekspresi moral yang berdimensi politik, dan ekspresi politik yang berdasar pada prinsip moral dan intelektual. Sebagai gerakan politik yang berbasis moral, gerakan mahasiswa tidaklah berpolitik pragmatis yang berorientasi kekuasaan baik bagi gerakan maupun kadernya. Masa-masa awal Orde Baru pasca tumbangnya Presiden Soekarno di beberapa lembaga formal intra kampus, seperti di Universitas Indonesia telah terjadi pertentangan yang cukup hebat antara aktivis-aktivis mahasiswa yang berhaluan independen dengan mereka yang berafilisasi kepada lembaga ekstra kampus. Hal ini baraangkali menjadi perdebatan yang terus menerus mengenai peran dari lembaga-lembaga ekstra kampus ini.
Kelima, student goverment sejajar dengan pihak manapun. Hal ini adalah sebuah keberanian dari gerakan mahasiswa yang akan menjadi bahasa perjuangannya. Sehingga dengan pihak manapun gerakan mahasiswa mempunyai hak dan kesempatan yang sama. Hal ini membutuhkan keterlibatan mahasiswa secara luas. Namun, apa dikata, jika ternyata mahasiswa  secara umum bersikap apatis, masa bodoh terhadap kondisi kampusnya. Perlu energi yang besar untuk merubah paradigma berfikir. Sehingga untuk menghadapi pihak-pihak di luar maka mahasiswa harus mengatasi kondisi internal mereka sendiri. Jadi membutuhkan energi dua kali.
Lima prinsip dasar ini merupakan basis bagi pengembangan student goverment di sebuah kampus, maupun jaringan antar kampus. Dengan adanya proses internalisasi lima prinsip dasar ini, maka gerakan mahasiswa dengan seluruh elemen yang dimilikinya, akan menjadi kekuatan pressure group yang efektif terhadap decision maker, baik di kampus maupun negara. Selain itu, kinerja lembaga di student goverment akan mendapat arah yang jelas.

Thursday, April 23, 2015

Ma’had al Jami’ah sebagai Maskot Atmosfer Akademik UIN Walisongo


Semarang, lpmedukasi.comUIN Walisongo Semarang mempunyai asrama putri yang bernama Ma’had Al Jami’ah Walisongo. Ma’had tersebut terletak di area kampus II UIN Walisongo. Menurut KH. Dr. Fadlolan Musyafa’ Mu’thi, Lc, MA. selaku pengasuh menuturkan, Ma’had al Jamiah ini harapannya dapat menjadi maskot percepatan atmosfer akademik bagi sivitas akademika UIN Walisongo.

Di Ma’had inilah, universitas melakukan langkah konkrit untuk membentuk mahasiswa yang berkarakter Islam lokal dan berwawasan internasional. “Ma’had ini merupakan maskot percepatan atmosfer akademik, disini kalian akan dibekali dan  dijadikan bahan percontohan bagi mahasiswa lain diluaran sana,” ujarnya saat mengaji bersama para santri.
UIN Walisongo adalah lembaga yang mengkaji ilmu agama secara scientifik. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mewujudkan mahasiswa yang mampu berfikir secara ilmiah dalam mempelajari ilmu agama dari berbagai aspek, salah satu upaya yang dilakukan adalah membekali mahasiswanya dengan kemampuan dua bahasa sekaligus, yakni bahasa arab dan inggris. Ma’had telah menggunakan metode bilingual, mahasantri wajib menggunakan bahasa arab dan inggris dalam kesehariannya. Selain itu, pada malam Selasa dan Rabu, terdapat kuliah bahasa untuk menunjang pengetahuan bahasa para santri.
Menjelang pagi setelah salat subuh, mereka mengadakan khitobah dua bahasa bersama di Masjid al Fitroh, kemudian belajar bersama di halaman Ma’had, para santri menyebutnya dengan Muhaddatsah jika minggu arab dan Conversation jika minggu inggris.
“Setelah kami melaksanakan salat subuh bersama, ada kegiatan khitobah dua bahasa, bahasa yang digunakan tergantung pada minggu arab atau minggu inggris, setelah itu kami muhadatsah jika minggu arab dan conversation jika minggu inggris, barulah setelah kegiatan selesai kami bebas pergi kuliah,” kata Fina yang merupakan mahasantri Ma’had al Jami’ah.
Aktivitas mahasiswa yang bertempat di ma’had memang berbeda jika dibandingkan dengan mahasiswa lainnya, selain dituntut berbahasa arab inggris mahasantri juga mengkaji kitab kuning setelah menunaikan salat isya’ seperti Al Yaqutun Nafis, Ta’limul muta’alim, Mau’idhotul Mukminin dan Tafsir Jalalain. Sedangkan, setelah salat magrib ada tadarus al Qur’an hingga menjelang isya’ dan dilanjutkan kegiatan yang telah dijadwalkan.
“Kadang saya merasa lelah, tapi saya yakin ilmu yang saya dapatkan suatu saat akan bermanfaat. Walaupun di ma’had sini setiap hari harus berbaur dengan peraturan yang ketat dan jika melanggar mendapat takziran tapi bagi saya hal itu mampu membentuk karakter seseorang menjadi lebih baik,ujar Syarifah mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika semester 2.
Selain itu, mahasantri juga diajarkan bagaimana cara berdialektika, berfikir kritis dan inovatif. Ma’had memberikan wadah kepada mahasantri di setiap malam minggu untuk melaksanakan diskusi bersama mengenai isu-isu yang ada, atau menyangkut hukum-hukum dalam Islam yang masih menuai pro dan kontra. Ada juga kegiatan yang menunjang potensi santri seperti rebana dan bulletin ma’had. (Edu-On/Fajrin)



Mahasiswa UIN Walisongo Semarang Krisis Budaya Diskusi

Semarang, LPM Edukasi – Sejatinya diskusi itu dapat menambahkan khazanah intelektual, namun sangat di sayangkan, budaya ini mulai di tinggalkan oleh mahasiswa. Untuk itu, perlu adanya agen yang mendorong minat mahasiswa dalam berdiskusi.

Minggu, (22/3) Lembaga-lembaga di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang, kerap mengadakan kegiatan diskusi yang bertujuan menambah wawasan intelektual mahasiswa FITK. Namun sekarang ini mahasiswa cenderung apatis, sehingga terjadi kemerosotan minat mahasiswa dalam mengikuti diskusi. Begitulah keluhan yang di sampaikan oleh Sajidin salah satu koordinator diskusi.

Menurutnya, kemerosotan diskusi di FITK disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya yaitu tugas kuliah yang menumpuk, sehingga diskusi di anggap mengganggu  jadwal kuliah dan nantinya dapat berdampak pada nilai kuliah. Selain itu, ketidak aktifan mereka dalam berorganisasi juga mempengaruhi minat diskusi, karena sedikitnya informasi yang mereka dapatkan tentang jadwal diskusi. “Saya kira kemerosotan minat diskusi di kalangan mahasiswa disebabkan karena kesibukan mereka dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah, mereka lebih mementingkan nilai Indeks Prestasi (IP) dari pada mencari wawasan lebih melalui diskusi,” ujar mahasiswa semester dua.

Lain halnya dengan pendapat Erra Lutfia, ia menuturkan bahwa lunturnya budaya diskusi disebabkan karena tidak ada teman dan fasilitas pribadi, seperti tidak adanya kendaraan, sehingga tidak dapat menghadiri kegiatan diskusi. Ia juga menyatakan bahwa kadang terbersit rasa malas dan minder terhadap seniornya ketika mengikuti diskusi. “Kita harus merangkul mereka dalam sebuah organisasi, karena di dalam organisasi mereka merupakan satu keluarga yang harmonis. Jadi, kita harus menjaga keharmonisan tersebut, menumbuhkan semangat baru. Dalam diskusi kita harus menjaga silaturrahmi dengan baik, mengajak mengobrol-ngobrol dan mengajak maen agar semakin akrab antara satu dengan yang lain,” imbuh mahasiswa jurursan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI).

Melihat keadaan yang demikian, Sajidin memberikan solusi supaya diskusi dilakukan antara jam-jam kuliah yang kosong, maka mahasiswa yang mempunyai waktu luang dapat mengikuti diskusi. Selain itu, dia menambahkan agar setelah selesai melakukan diskusi mahasiswa meriview dan mengaplikasikannya didalam perkuliahan. Sehingga ilmu yang di dapat dalam diskusi bermanfaat dan membawa dampak positif bagi para aktifis diskusi.

Wednesday, January 14, 2015

Welcome 2015

Bintang masih setia menemani rembulan di langit Semarang..

ini adalah tahun baru pertama tanpa sosok keluarga, mamah dek ini mas baim.
ini adalah tahun baru pertama saat aku telah menjadi mahasiswa.
ini adalah tahun baru pertama milikku  dan bayangku.
ya, ini adalah tahun baru pertama yang akan mengukir mimpi dan masa depanku..

tahun yang baru,
bulan baru,
mimpi yang baru,
Semangat baru..

Welcome 2015, tunggu masa depan cerah yang akan ku ukir bersama harapan dan kesuksesan!!!
Bersama ridho Allah dan kehendak takdir-Nya.
Bersama hadiah mimpi dan cobaan,
Bersama rotan besi dan kayu bakar,
Bersama alam,
Bersama malam,
Bersama sepasang angan..
Bersama sejuta harapan titipan bunda tersayang.. :)

Air Mata Sahabatku


"Bergegaslah kawan... tuk sambut masa depantetap berpegang tangan, saling berpelukanberikan senyuman tuk sebuah perpisahankenanglah sahabat... kita untuk slamanya"

Lirik lagu yang di bawakan oleh penyanyi tanah air Bondan Prakoso bersama Fade 2 black ini masih mewarnai suasana di pojok ruangan kamar nomor 11 lantai 2. Para penghuninya sudah lama memejamkan mata, mungkin mereka terlalu lelah dengan rutinitasnya masing-masing. Tapi, tidak untuk diriku, aku masih termangu, menatap layar laptopku, melihat kembali foto-foto yang pernah ku buat bersama teman-temanku.

Lihatlah, betapa banyolnya kami ketika bersama. rasanya berat jika harus berpisah kamar dengan mereka -ukhti Sohibatul Ismatil Hasanah, Miss Farda Naila Salsabila, Miss Siti nur Azizah-.
Sejak pertama kali aku menjadi mahasiswa, merekalah keluarga pertamaku di Semarang. dan kelak sebentar lagi aku harus berpisah dengan mereka. Saudara baru di Asrama Al Jami'ah walisongo. Tuntutan peraturan turun temurun tetap abadi dan membudaya.

Perpisahan ini tetap akan terjadi, mencoba belajar keikhlasan. menerima apa yang telah di gariskan, lantai satu dua tiga empat, dimana kita nanti berada kalian tetap sahabat terbaik yang pernah bersama, yang telah mengukir jutaan kenagan suka duka. Yang telah memberikan warna mejikuhibiniu.

Terima kasih ukhti, telah mengajariku banyak tentang hidup, mengajariku arti kesabaran, terima kasih membantu memanggul bebanku, terima kasih telah mengajariku arti berbagi, terima kasih untuk segala yang kalian berikan padaku selama ini, dan maafkan aku, yang pernah membuat kalian marah, sebal, kesal dan perasaan tak enak lainnya. Aku sayang kalian.. :) :) :)




Tuesday, January 13, 2015

Namaku Fajrin


Tidak mudah mengubah sesuatu menjadi hal baru yang di inginkan, sama halnya ketika perubahan tidak di perjuangkan. Hidup akan terus berjalan, dan waktu akan menebas habis kesempatan.


Aku, aku hanyalah kata sederhana tapi bermakna. Saat menulis catatan kecil ini umurku tepat 18 tahun 6878 hari, 63 hari lagi tepat 6941 hari sama dengan 19 tahun 228 bulan 912 minggu 166440 jam 9986400 menit, masih sangat muda tetapi cukup tua dan cukup mudah menyia-nyiakan hidup. Betapa kurang besyukurnya aku kepada Allah yang Maha Esa, yang dengan ridhonya memberikanku kesempatan hidup yang panjang, memberikanku kesempatan memperbaiki segalanya.

Hingga datang waktunya, penyesalan demi penyesalan datang, tapi apa guna aku mengaduh dan mengeluh. Sekarang bukan saatnya untuk itu, tunjukkan, buktikan, lakukan. Memperbaiki semua hal yang dulu pernah aku acuhkan.


Jujur, aku ingin berkata, hidup ini terlalu indah untuk disia-siakan, terlalu hina untuk di acuhkan, terlalu megah untuk di abaikan. Ya allah, terima kasih atas anugerahmu, terima kasih atas rahmad dan hidayahmu, terima kasih atas segalanya. Namaku Fajrin dan aku BISA!!!

Namaku Fajrin, Laila Fajrin..  :)






Thursday, December 4, 2014

Disini Semua Berawal

Rabu, 19 November 2014

Sudah cukup lama aku berada ditempat ini, mencoba berbaur dengan suasana kota Semarang yang tak menentu. Sudah cukup lama pula aku mengenyam bangku perkuliahan di Universitas tempatku belajar sekarang, untungnya aku masuk di universitas yang cukup ramah lingkungan, memiliki pola dasar warna hijau, kalau kata orang-orang warna hijau itu warna surga, menyejukkan mata. aku mulai aktif melakukan kegiatan kampus dan asrama, yahh.. untuk tahun pertama aku dan keluargaku lebih memilih untuk tinggal selama satu tahun di asrama, paling tidak selama setahun sedikit banyak aku mampu berlatih bahasa guna bekal menghadapi hari esok. Kadang aku merasa tertekan, suntuk dan jenuh dengan pola kegiatan asrama yang mengikat dan membatasi gerak gerikku disini. Melihat latar belakangku yang suka berorganisasi menjadi mahasiswa monoton yang hanya mampu menghabiskan waktunya di kampus dan asrama saja. ohh, sungguh ini sangat membunuhku, aku sama sekali tidak bisa mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa manapun, karena asrama sangat berorientasi kepada bahasa dengan sistemnya yang sangat ketat.

Tidak sampai disitu, aku masih ingat jelas, malam itu ukhti isma dengan wajah datarnya berkata bahwa akan diadakan MAPABA ke 2 untuk para mahasiswa yang mau mengikuti kegiatan PMII, betapa bahagianya hatiku :D pasalnya, sejak pertama kali kuliah disini aku sangat ingin mengikuti ekstra PMII, entah apa yang mendorongku untuk ikut terjun kedalam dunia ke PMIIan. dengan tekad bulat aku putuskan untuk mengikuti ekstra PMII bersama teman asramaku Diyah, kami tak peduli bagaimana kedepannya nanti, mungkin akan banyak takjiran hukuman-hukuman yang menanti kami. hohoho...

Memang tidak semua agenda mampu aku dan Diyah lewati karena kami tetap saja harus sampai di asrama pukul setengah enam, kakak-kakak PMII pun mengijinkan bahkan mereka berbaik hati mengantarkan kami pulang keasrama. Dua hari mengikuti MAPABA 2 dengan waktu yang relatif singkat tapi penuh makna dan kenangan, aku dapat mendapatkan teman-teman baru, kakak-kakak baru, pengalaman baru, dan ahhh... banyak sekali, sampai aku tak mampu menyebutkannya dalam kata, disana juga aku pertama kali bertemu dengan dia. :)







Rencana Allah Tetap yang Terbaik

Rencana Allah tetap yang terbaik!!!
Ketika kita menginginkan sesuatu yang tak kunjung kita dapatkan maka Allah meminta kita untuk sabar menunggu.
Ketika kesedihan menjatuhkan air mata maka Allah meminta kita untuk berusaha tersenyum.
Ketika perjalanan hidup terasa membosankan maka Allah menyuruh kita untuk banyak bersyukur.

Kita punya rencana,
Allah juga punya rencana. :)
Akan tetapi, sehebat apapun kita merencanakan sesuatu tetap rencana Allah adalah sebaik-baik rancangan!!!
Ingatlah, Allah selalu memberikan kelebihan dibalik kekurangan.
Allah selalu memberikan kekuatan dibalik kelemahan.
Allah selalu memberikan senyum dibalik kesedihan.
Allah selalu memberi harapan dibalik keputusasaan.
Yakinlah, kebahagiaan itu akan hadir juga pada waktunya.
Sesuai rencana-Nya,
Sesuai rancangan-Nya,
dan tak ada alasan bagi kita untuk meragukan-Nya!!!